EO Gau Maraja Buka Suara soal Honor Seniman

Ketgam: Momen Gau Maraja 2026 di Bone. (Ist)
Ketgam: Momen Gau Maraja 2026 di Bone. (Ist)

ENEWS, BONE ••》Juang Manyala angkat bicara menanggapi polemik honorarium pekerja seni Festival Gau Maraja 2026 di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang disebut belum dibayarkan.

Juang menegaskan, dirinya selaku kurator dan event organizer (EO) tidak mengenal pekerja seni berinisial SY yang mengeluhkan honor tersebut. Ia juga membantah adanya praktik saling lempar tanggung jawab antara pihak EO dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

banner 728x250

Menurut Juang, keterlibatan pekerja seni dalam sejumlah rangkaian festival dilakukan melalui sub-EO, yakni Tawa Semesta. Perekrutan penampil, kesepakatan honor, hingga kebutuhan produksi menjadi tanggung jawab sub-EO tersebut.

“Kami tidak pernah berkomunikasi mulai dari awal sampai berakhirnya event dengan talent tersebut. Kami mempercayakan pembiayaan, produksi, dan pemilihan talent kepada sub-EO kami, Tawa Semesta,” jelas Juang.

Ia menerangkan, pihaknya bertindak sebagai EO induk yang menyiapkan konsep, pendanaan, dan arahan kuratorial. Sementara itu, sub-EO bertanggung jawab menentukan vendor, talent, produksi, serta susunan acara.

Juang mengakui pembayaran kepada sub-EO Tawa Semesta belum dilunasi. Namun, ia menyebut kewajiban tersebut terkendala proses administrasi dan pencairan anggaran pemerintah daerah.

Menurutnya, pengesahan APBD Perubahan 2026 yang berlangsung pada malam terakhir pelaksanaan Gau Maraja, ditambah proses penggabungan Dinas Kebudayaan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, turut memengaruhi proses administrasi.

“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak keuangan, staf ahli, dan DPRD agar pembayaran bisa segera dilakukan,” ujarnya.

Juang juga menegaskan, Festival Gau Maraja bukan proyek pemerintah yang dimenangkan EO melalui proses tender. Ia menyebut keterlibatannya bersama tim merupakan bentuk dukungan untuk membantu Dinas Kebudayaan mengorganisasi kegiatan tersebut.

Ia menyayangkan polemik pembayaran honor itu berkembang menjadi persoalan yang berpotensi merusak hubungan antara seniman, pelaku kreatif, dan pemerintah daerah.

Juang menambahkan, pihaknya telah memberi ruang kepada berbagai seniman lokal, mulai dari sanggar di tingkat desa dan kecamatan hingga komunitas kampus. Program open submission juga disediakan agar talenta yang belum terjangkau EO tetap memiliki kesempatan tampil.

Sebelumnya, pekerja seni berinisial SY mengaku honor atas penampilannya dalam Festival Gau Maraja 2026 belum dibayarkan. SY menyatakan telah mempertanyakan persoalan tersebut kepada OPD terkait dan pihak EO.

Hingga persoalan ini mencuat, pembayaran honor yang dikeluhkan SY masih menjadi sorotan. Penjelasan mengenai kesepakatan honor antara SY dan sub-EO serta kepastian waktu pelunasan menjadi hal penting untuk memperjelas persoalan tersebut. (Redaksi)





Tinggalkan Balasan