Bone  

Polemik Sekwan Bone: Komunikasi adalah Kunci

Foto: Mujiburrahman.

Seyogyanya kata Jibu, miskomunikasi semacam ini baiknya diselesaikan dengan tangan terbuka sembari minum kopi ditemani kudapan tradisioanal onde-onde atau apang panas.

ENews, Bone •• Tidak ada perang bila komunikasi masih terbuka. Tidak ada kekacauan kalau komunikasi belum buntu. Tidak ada perpisahan jika komunikasi masih terjalin. Tidak kata mantan bila masih sayang. Begitu kata salah seorang akademisi Universitas Negeri Manado, Mujiburrahman SH, MH ketika menanggapi polemik batalnya dilantik Hj Faidah menjadi Sekwan DPRD Bone karena tak kantongi rekomendasi dari Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong.

banner 728x250

Sepenting itukah komunikasi dalam bermasyarakat?

Pria yang akrab disapa Jibu ini memaparkan bahwa komunikasi adalah jembatan kesepahaman menuju kata sepakat. Tanpa itu, semua akan terlihat secara parsial. Bergerak tanpa keteraturan, tindakan tanpa kordinasi dan gerak tanpa diplomasi akan mengarah pada misskomunikasi.

“Begitu pentingnya komunikasi, bejibun teori sekaitan dengannya telah kita baca dan aplikasikan,” kata Jibu saat berbincang bersama jurnalis ENews Indonesia di salah satu cafe di Kota Watampone, Kamis (17/7/2025).

Perihal tidak dilantiknya Hj Faida menjadi sekwan di acara pelantikan pejabat kemarin di Kabupaten Bone. Menimbulkan tanya, kenapa?

“Padahal santer terdengar bahwa ibu Faida akan ikut dilantik beserta dengan pejabat yang dilantik kemarin. Tentu silang kabar dengan spekulasi beragam mencuat,” katanya.

Kabarnya kata Jibu, ketua DPRD tidak memberikan rekomendasi, hal itu sekaitan tidak adanya komunikasi secara langsung diantara keduanya yakni Hk Faida dan Andi Tenri Walinonong.

Dalam membangun sinergitas dan kerja sama dalam mewujudkan pembangunan kata Jibu, dibutuhkan komunikasi yang baik dan terukur. Ini menjadi tolak ukur dalam terlaksananya program kerja yang akan dieksekusi.

Bertalian dengan itu, komunikasi antar orang ke orang, orang ke lembaga, dan lembaga ke lembaga mesti dan mutlak terjalin harmonis antara masing-masing kepentingan.

“Jika tidak, misinformasi, diskomunikasi akan menjadi kambing hitam dalam arena diplomasi,” jelasnya.

Lebih jauh Jibu mengutip kata tpkoh Martin Buber, seorang pakar komunikasi yang pernah menasbihkan bahwa ajakan untuk bertemu dan bersemuka sesungguhnya adalah Invititional Discourse (undangan bercakap-cakap) ajakan untuk saling terbuka.

“Bukankah semua akan baik-baik saja bila komunikasinya baik dan bisa saling merangkul,” ujarnya.

Seyogyanya kata Jibu, miskomunikasi semacam ini baiknya diselesaikan dengan tangan terbuka sembari minum kopi ditemani kudapan tradisioanal onde-onde atau apang panas.

“Sungguh nikmat apabila kita saling mengerti. Kode mata pun adalah komunikasi kalau kita saling mengerti. Kita orang bone, degaga to laing (tak ada orang lain. Red),” kuncinya.

Sebelumnya diberitakan, terdapat enam jabatan yang dilelang oleh Pemkab Bone yakni, Kepala BKPSDM, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sekretaris DPRD Bone, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah.

Pada pelantikan pejabat Eselon II yang digelar di gedung Lateariduni pada Rabu 16 Juli 2025 kemarin hanya lima pejabat yang dilantik. Sekretaris Dewan (Sekwan) tak ikut dilantik hingga menjadi perbincangan hangat masyarakat Bone.

Hj, Faidah yang digadang-gadang menduduki jabatan itu dan juga telah lolos seleksi tak hadir dalam pelantikan tersebut.

Saat dikonfirmasi, dengan nada kesal, Hj. Nurfaidah mengaku telah mengantongi surat rekomendasi dari fraksi-fraksi di DPRD Bone tapi belum mengantongi rekomemdasi dari Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong.

“Semua sudah tanda tangan melalui rapat, tapi dia (Ketua DPRD Bone. Red) tidak hadir di rapat, saya sudah bolak-balik, saya tidak tahu apa kesalahanku sehingga tidak mau tanda tangan, bahkan stempel dia bawa,” kata Hj Faidah melalui sambungan telepon seluler, Rabu (16/7/2025) sore. Hj. Faidah mengaku sedang berolahraga lari sore saat ditelepon tersebut.

Hj. Faidah menambahkan, setelah dia berupaya, ia memutuskan untuk berhenti meminta rekomemdasi tersebut.

“Kita kayak anak kecil saja, cape’ka, saya juga manusia ji,” katanya kesal.

Sementara, Ketua DPRD Bone saat dikonfirmasi terpisah, mengaku sulit berkomunikasi dengan Hj Faidah.

“Saya dihubungi kemarin (Selasa, 15/7. Red) oleh beliau (Hj. Faidah. Red) untuk ketemu tapi saya tidak di rujab (DPRD Bone), saya di kampung. Nah, malamnya saya di pengantin lagi, saya berharap malam beliau sudah di rujab, saya menunggu sampai jam 01.00 Wita malam karena katanya sudah mau dilantik besok tapi tidak datang,” ungkap Politisi Partai Gerindra itu kepada ENews Indonesia melalui pesan instan, Rabu (16/7).

“Tadi pagi saya menunggu beliau untuk hadir menemui saya di kantor tapi ternyata hanya menitip berkas lewat sopirnya,” tambahnya.





Tinggalkan Balasan