Maulid Salabose Bukan Sekadar Tradisi, SDK Dorong Pelestarian Budaya Mandar

Foto: Gubernur Sulbar, Suhardi Duka saat menghadiri peringatan maulid nabi di Salabose Kabupaten Majene. (*)

ENEWS, MAJENE ••》Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Suhardi Duka (SDK), menyebut Salabose, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, sebagai titik nol tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Mandar. Tradisi tersebut dinilai menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur yang masih dijaga masyarakat hingga kini.

Pernyataan itu disampaikan SDK saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Keluarga Besar Rumpun Masyarakat Poralle Salabose di pelataran Masjid Kuno Syech Abdul Mannan Salabose, Selasa (25/8/2026).

banner 728x250

“Salabose ini adalah titik nol dari wilayah Mandar. Kenapa titik nol? Karena tidak ada gerakan maulid sebelum Salabose bermaulid. Oleh itu, tanah ini adalah tanah yang diberkati,” kata SDK dalam sambutannya.

Menurut SDK, masyarakat di sejumlah wilayah Mandar terbiasa menunggu pelaksanaan Maulid Salabose sebelum menggelar peringatan serupa di daerah masing-masing. Kebiasaan itu, kata dia, bukan karena instruksi pemerintah, melainkan bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Tidak ada instruksi Gubernur yang melarang maulid sebelum Salabose maulid. Tapi seluruh masyarakat Mandar menghargai. Tunggu dulu, jangan dulu maulid. Harus maulid dulu di Salabose, baru masjid yang lain,” ujarnya.

Ia mencontohkan pelaksanaan Maulid di Masjid Lambanan, Kabupaten Polewali Mandar, yang dijadwalkan setelah Maulid Salabose. SDK menilai kebiasaan tersebut mencerminkan etika sosial dan penghargaan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya Mandar.

“Salabose dulu, baru Lambanan. Ini adalah etika. Ini adalah ilmu yang sangat tinggi bagi kita masyarakat Mandar,” tuturnya.

SDK juga menegaskan agama dan budaya tidak perlu dipertentangkan. Menurutnya, keduanya dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat, terutama dalam menjaga identitas serta membentuk karakter generasi muda.

“Agama dengan budaya itu saling melengkapi dan saling menguatkan. Agama akan lebih kuat dan mengakar apabila ditopang oleh budaya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, SDK mengajak jamaah mendoakan almarhum Wakil Gubernur Sulbar, Jenderal Salim S. Mengga, dengan membaca Surah Al-Fatihah. Ia juga mengenang pengalamannya yang menunjukkan kuatnya tradisi Maulid dalam kehidupan masyarakat Mandar.

SDK turut mengapresiasi rangkaian tradisi yang ditampilkan dalam peringatan tersebut dan berharap pemerintah dapat mendukung pelestarian Maulid Salabose melalui dukungan anggaran pada tahun mendatang. Ia menegaskan kolaborasi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan masyarakat diperlukan agar tradisi serta kearifan lokal Mandar tetap lestari. (Hasbi Waluyo)