Hari Kebangkitan Nasional, Deng Ical: Bangkitkan Makassar Jadi Pintu Indonesia Timur

Foto: Gelaran peluncuran Gerakan Generasi Bangkit di sekretariat DPC PKB Makassar, Selasa (21/5/2024) dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional. (File Enews)

ENEWSINDONESIA.COM, MAKASSAR ▪︎ Syamsu Rizal Marzuki Ibrahim atau akrab disapa Deng Ical (Caleg DPR RI terpilih dari PKB) menyebut tingkat pertumbuhan ekonomi Makassar pernah mengalahkan Jepang dan Tiongkok.

Mantan Wakil Wali Kota Makassar itu menjelaskan, segala sektor bergerak secara bersama akan menjadi modal utama bagaimana partisipasi ditumbuhkan agar motivasi dengan semangat Makassar Bangkit bisa digairahkan.

banner 728x250      
 

“2013 kita menyentuh ekonomi sampai dua digit yakni 11 persen yang disebut presiden SBY saat itu mengalahkan Jepang dan Tiongkok, karena seluruh sektor bergerak tidak merasa diabaikan,” terang Deng Ical saat gelaran peluncuran Gerakan Generasi Bangkit di sekretariat DPC PKB Makassar, Selasa (21/5/2024) dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional.

Deng Ical memaparkan dalam kegiatan tersebut, Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur mestinya menjadi pintu agar perekonomian makin dirasakan berbagai lapisan masyarakatnya.

“Kita bangkitkan romantisme itu, kita munculkan kembali. Kita punya pelabuhan Soekarno Hatta sebagai gerbang. Tumbuhkan partisipasi besar. Karena potensi sosial di sini yang memiliki solidaritas tinggi di Makassar,” ucap Deng Ical.

Pembicara lain, Anggota DPRD Makassar terpilih dari PKB, Zulhajar mengatakan bahwa terjadi interaktif antara pembicara dan peserta dari lintas organisasi mulai dari KPJ atau Kelompok Penyanyi Jalanan, PMII Cabang Makassar, DPC Banom PKB. Relawan Gesit, Relawan Milenial dan lain-lain.

Sementara, Ketua DPW PKB Sulsel, H. Azhar Arsyad menjelaskan, gerakan generasi bangkit dan Makassar Bangkit lahir dari kegelisahan bersama di PKB dengan berbagai realitas sosial, budaya hingga politik yang memerlukan kebersamaan dalam menjadikan kota lebih baik.

“Kita butuhkan karakter yang menjadi identitas kuat kota ini. Gerakan ini untuk menjahit antar generasi,” ucap Azhar

Lanjutnya, Majemuknya suatu kota dengan berbagai elemen antar generasi z, milenial, generasi x sampai baby boomers itu seakan tersekte-sekte. Padahal ketika ini diber ruang saling dukung akan menjadi kekuatan yang akan membentuk karakter bagi kota.

“Kita tidak pernah terjahit antar generasi. Cenderung menstigma, antara milenial, kaum kolonial lebih jago dari genarasi z. inilah bagaimana kita cari, pentingnya dipikirkan. Tidak ada gunanya kalau tidak bersama,” beber Azhar.

Artinya, tidak boleh memandang sekat antara lintas generasi agar produktifitas dapat tersalurkan dengan baik yang akan membuat daerah atau kota tumbuh secara partisipasi.

“Kita lihat UMKM sudah masuk digitalisasi kemudian kita tidak mau mengapresiasi itu?. Antar generasi menjadi kebersamaan, dan identitas itu kita bangun dari keluarga. Kita tidak boleh sekat sekat. Kita mesti .elihat orang setara secara produktif,” beber Azhar.

Azhar juga menyebut perbandingan APBD Sulsel dan Makassar yang memiliki potensi sama dengan kota besar lainnya. Azhar menyebut Sulsel APBD Rp 9,8 Triliun dan Makassar Rp 5,7 Triliun.

“Bedanya Sulsel dengan jangkauan luas 24 kabupaten kota. Sementara Makassar semestinya ekspektasi harusnya sama Surabaya, Jatim. Ekpor impor banyak di sana (Surabaya), jadi mesti kita bersama menjadikan Makassar Bangkit yang lebih baik,” pungkasnya.

Terakhir, Akademisi UNM Aslan Abidin menambahkan aspek pendidikan dan maindset menjadi penting dalam menyongsong Makassar Bangkit kedepan.

“Kegiatan ini sangat bagus. Kami juga berharap PKB sebagai taring dari kota sampai naik di pusat, bahwa generasi bangkit ini membawa kolaborasi. Kita bergabung dengan mindset itu tanpa ada ego sektoral yang akan jadi paling luar biasa,” ucapnya.

(Muhammad Jufri)

banner 728x250   banner 728x250