Dokter Spesialis Gowes 151 Km Bone-Makassar, Jadikan Perjalanan Kado Ulang Tahun ke-44

Ketgam: Dokter spesialis Andi Melda Massakirang bersepeda dari Bone menuju Makassar sejauh 151,81 kilometer sebagai kado ulang tahun ke-44.
Ketgam: Dokter spesialis Andi Melda Massakirang bersepeda dari Bone menuju Makassar sejauh 151,81 kilometer sebagai kado ulang tahun ke-44.
dr. Melda saat singgah beristirahan dalam gowes Bone – Makassar.
dr. Melda saat berada di jalur Kappang, Kabupaten Maros.
Foto: dr. Melda saat bersama anak sebelum berangkat gowes Bone – Makassar.

ENEWS, BONE ••》Ulang tahun ke-44 dirayakan Andi Melda Massakirang dengan cara yang tak biasa. Bukan pesta atau kado mewah, dokter spesialis di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, itu memilih mengayuh sepeda sejauh 151,81 kilometer dari Bone menuju Makassar.

Perjalanan dimulai pada 30 September pukul 16.39 WITA dan berakhir sekitar pukul 02.00 WITA, 1 Oktober. Total waktu tempuh sekitar 7 jam 46 menit.

banner 728x250

Bagi Melda, perjalanan tersebut bukan sekadar olahraga. Gowes jarak jauh itu menjadi cara personal untuk merayakan pertambahan usia sekaligus menjaga kebugaran di tengah kesibukannya sebagai dokter dan ibu dua anak.

“Saya berolahraga agar sehat. Kebetulan saya juga hobi naik sepeda,” kata Melda.

Kisah perjalanan tersebut kemudian dibagikan Melda melalui akun Instagram pribadinya. Dari unggahannya, terlihat bagaimana perjalanan ratusan kilometer itu diwarnai kelelahan, tantangan fisik, dukungan tim hingga pesan penyemangat dari keluarga.

Sempat Nyaris Batal

Sebelum mengayuh sepeda menuju Makassar, Melda sempat berada dalam dilema.

Anak bungsunya tiba-tiba mengalami demam. Kondisi tersebut membuatnya mempertimbangkan kembali rencana perjalanan.

Melda bahkan telah menyampaikan kepada tim bahwa keberangkatan akan dibatalkan jika kondisi anaknya belum membaik.

Setelah kondisi sang anak berangsur membaik, ia akhirnya memutuskan tetap berangkat. Dengan dukungan tim dan coach, perjalanan pun dimulai.

Tubuh Mulai Menunjukkan Batas

Tantangan mulai terasa ketika perjalanan memasuki kilometer 63.

Melda bersama tim berhenti untuk memeriksa kondisi tubuh dan beristirahat. Ia mengonsumsi buah dan mendapat bantuan stretching dari coach sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

dr. Melda saat singgah beristirahan dalam gowes Bone - Makassar.
dr. Melda saat singgah beristirahan dalam gowes Bone – Makassar.

Memasuki kilometer 86, kondisi fisiknya kembali diuji. Melda mengaku napas mulai tidak teratur dan detak jantungnya mencapai 168 kali per menit.

Ia kembali mengambil waktu untuk beristirahat, melakukan relaksasi dan mengangkat kaki. Setelah mengonsumsi cokelat, perjalanan kembali dilanjutkan.

Namun, tantangan belum berakhir.

Kappang Jadi Salah Satu Titik Berat

Memasuki kilometer 103, udara malam semakin dingin. Perjalanan melalui kawasan Kappang menjadi salah satu bagian yang paling berat bagi Melda.

dr. Melda saat berada di jalur Kappang, Kabupaten Maros.
dr. Melda saat berada di jalur Kappang, Kabupaten Maros.

Medan yang dikelilingi tebing, jurang dan pepohonan membuatnya mengaku sempat mengalami sesak napas. Rasa lelah pun semakin kuat.

Dalam unggahannya, Melda menggambarkan kondisi tersebut sebagai momen ketika dirinya mulai merasa seperti mengalami halusinasi akibat kelelahan.

Coach yang mendampinginya terus menjaga komunikasi melalui radio atau HT. Percakapan tersebut dilakukan untuk membantu Melda tetap fokus dan tenang.

Saat itu, detak jantungnya kembali berada di kisaran 170 kali per menit.

Pesan Anak Jadi Penyemangat

Memasuki kilometer 132 di kawasan SPBU Maros, kelelahan semakin terasa.

Namun, pesan dari keluarga menjadi penyemangat berikutnya.

“Bunda pasti bisa, semangat Bunda,” pesan sang anak.

Foto: dr. Melda saat bersama anak sebelum berangkat gowes Bone - Makassar.
Foto: dr. Melda saat bersama anak sebelum berangkat gowes Bone – Makassar.

Pesan singkat itu menjadi dorongan bagi Melda untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ia makan dan beristirahat sejenak sebelum kembali mengayuh sepeda menuju Makassar.

Dengan kondisi tubuh yang semakin lelah, Melda akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh rute.

Tujuannya adalah Bandara Sultan Hasanuddin.

“Alhamdulillah sampai di Bandara Sultan Hasanuddin. Finish, aku bisa dan mampu,” tulis Melda dalam unggahannya.

Kado Ulang Tahun yang Berbeda

Perjalanan 151,81 kilometer itu akhirnya bukan sekadar catatan jarak.

Ada cerita tentang seorang ibu yang sempat bimbang meninggalkan anaknya, perjuangan menghadapi kelelahan, kondisi fisik yang beberapa kali menurun, serta dukungan coach dan keluarga sepanjang perjalanan.

Sebagai dokter, Melda sehari-hari berkutat dengan dunia kesehatan. Namun, melalui hobinya bersepeda, ia juga memilih menjaga kesehatan dirinya sendiri.

Baginya, olahraga menjadi bagian dari upaya menjalani hidup yang lebih sehat.

Pada usia 44 tahun, Melda memilih memberikan hadiah kepada dirinya sendiri dengan cara yang sederhana, tetapi penuh perjuangan: mengayuh sepeda dari Bone hingga Makassar.

Bukan kado yang dibungkus kertas.

Melainkan 151,81 kilometer perjuangan, dukungan keluarga, dan keberanian menantang batas diri.

Perjalanan itu menjadi cara Melda menyambut usia baru dengan satu pesan sederhana: tetap sehat, tetap bergerak, dan terus melangkah lebih jauh.

Jurnalis: Zul | 7





Tinggalkan Balasan