Bone  

Hari Jadi Bone ke- 693 Angkat Konsep Gotong Royong

Foto: logo juara 1 sayembara logo HJB 693. (Ist)

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Lomba desain logo Hari Jadi Bone ke- 693 telah terlaksana dan lahirkan 3 pemenang. Pemerintah Kabupaten (pemkab) Bone, Provinsi Sulawesi Selaran sepakat tema HJB kali ini yakni, “Sisenge’ Mattulu Tellu“.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Andi Murni mengungkapkan pihaknya menerima 48 logo yang mengikuti lomba tersebut.

banner 728x250

“Ada 3 yang terpilih dan yang terlibat dalam penilaian 5 orang dari tenaga ahli budaya, unsur kesenian, desain grafis,” paparnya, Kamis (9/2/2023).

Andi Murni menyampaikan, pengumuman pemenang lomba tersebut diumumkan pada hari Senin (7/2/2023) sesuai dengan tema yang telah disepakati yakni, konsep Mattulu Tellu di pemerintahan raja Bone yang ke- 7 Latenri Rawe Bongkangnge.

Bupati bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi memberikan apresiasi karya para peserta dan para finalis serta kinerja dewan juri yang telah melakukan proses penilaian hingga menetapkn pemenangnya.

Berikut daftar nama ke 3 pemenang;

1. Muh. Aswin, alamt Jalan Husein Jeddawi kota Watampone;
2. Hasbulla, alamat Jalan Ternate;
3. Muh.Aswar Habir, alamt Jalan Yos Sudarso.

“Dalam perayaan HJB mendatang kami juga akan melakukan ziarah hingga keluar provinsi seperti di makam raja Bone Lapawawoi di Kalibata, Jakarta,” imbuh Andi Murni.

“Juga kami akan mengadakan beberapa perlombaan dan pagelaran menyambut HJB tersebut,” pungkasnya.

Dikutip dari desertasi dalam skripsi S2 Mahadir (2020) mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar tentang Prinsip Mattulu Tellue pada Masyarakat Bone dalam Perspektif al-Qur’an.

Mattulu Tellue yakni Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Malilu Sipakainge (hanyut saling mendamparkan, rebah saling menegakkan, khilaf saling mengingatkan) merupakan salah satu budaya Bugis Bone yang dilegitimasi dalam kehidupan sehari-hari, yang mengarah pada konsep tolong menolong dan gotong royong.

Hal tersebut merupakan pesan moral dari leluhur bukan saja sebagai hal yang prinsipiel, namun juga motto dan menjadi falsafah hidup Bugis Bone yang mengharapkan adanya persatuan.

Mattulu tellue tidak hanya pula sebagai prinsip yang hidup dengan menyelaraskan konsep dan nilai ajarannya ke dalam alam pikiran budayanya, namun ia juga sejalan dengan tradisi keintelektualan al-Qur’an. (Mimienk Lee)





Tinggalkan Balasan