Wanita dan Peradaban

  • Bagikan

Oleh: Ikbal Tehuayo

ENEWSINDONESIA.COM, OPINI – Arsitektur alam semesta dengan keunikannya yang memukau ini, tak sedikit aneka ragam keindahan yang bisa kita saksikan. Dari daratan, lautan hingga ruang angkasa yang bertaburan bintang- gemintang.

Dari sekian banyaknya keindahan alam yang tak terhitung di jagad ini, rasanya tak lengkap bila wanita tidak diciptakan.

Dari syair-syair dan catatan ilmiah para ahli, semua bergandengan dalam satu tafsir yang sama, yaitu keindahan surga sekalipun tak mampu mendonorkan ketentraman yang lengkap di dalam jiwa Adam bila Hawa tidak diciptakan.

Wanita adalah penyumbang ketentraman, terlukis abadi di dalam kitab pedoman hidup ( Alquran ) yang menginformasikan kepada kita, bahwa diantara tanda-tanda kekuasaan-Nyalah ia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang. ( Q.S arrum:21 )

Wanita disebut sebagai perhiasan yang paling baik di hamparan bumi. Kekasih Allah pembawa rahmat, Muhammad bin Abdullah dengan jelas menyebutkan hal ini dalam salah satu sabdanya yang artinya: ” Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita Sholeha. ( HR. Muslim no 1467 ).

Salah satu istilah yang sudah menjadi sahabat karib di telinga kita adalah dibalik sosok pria yang sukses ada wanita yang tangguh. Istilah ini tentu bukan khayalan atau dongeng belaka untuk memuja wanita.

Dari bumi Nusantara hingga daratan eropa, siapa yang tak kenal sosok B.J. Habibie dengan kejeniusannya, namun dibalik kejeniusan dan kesuksesannya, ia tak berdiri sendiri, sebab di belakangnya ada kekasih belahan jiwa yang slalu menopangnya, yaitu Ainun.

Barac Obama tidak asing di telinga warga dunia, presiden ke 44 Amerika Serikat yang berkulit hitam ini mampu meraih nobel perdamaian dunia pada 2009 silam, namun ia juga tak seorang diri, dibelakang ada sosok penyemangatnya, yaitu Michelle istrinya.

Dari uraian di atas dapat kita pahami, bahwa wanita diciptakan bukan sekedar untuk menjadi ibu rumah tangga dan menjaga anak-anaknya dirumah, tapi mereka juga energi yang dahsyat bagi peradaban dan perkembangan umat manusia.

Bila mengintip peradaban Islam yang begitu cepat menyentuh jiwa manusia di seluruh penjuru dunia, tentu kita tak bisa lepas dengan peran Khadija yang mendukung Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan agama Islam.

Tentu tak hanya Khadija, masi banyak wanita yang ikut serta dalam upaya berkembangnya peradaban Islam, dari persoalan yang sederhana hingga yang dapat mengancam keselamatan.

Asma binti Abubakar misalnya, ia adalah salah satu contoh wanita yang di dalam hatinya begitu cinta kepada Nabi Muhammad dan Ayahnya Abubakar sebagai tokoh peradaban Islam, dengan tidak merasa takut ia membawa makanan buat Baginda Nabi dan ayahnya di goa tsur tempat persembunyian dari kaum kafir Quraisy yang merencanakan pembunuhan.

Dari bumi Pertiwi, keberhasilan melepaskan belenggu penjajahan yang begitu lama menyiksa rakyat tak bisa kita nafikan adanya peran kaum wanita. Hal ini terbukti dengan adanya pengesahan wanita sebagai pahlawan nasional, diantaranya adalah: Fatmawati, Martha Christina Tiahahu dan tentu Masi banyak lagi.

Soong Chong Ling ( Tiongkok ) Corazon Aquino ( Filipina ) Ruth Dreifuss ( Swis ) hingga Megawati Soekarno Putri ( Indonesia ) mencerminkan bahwa tak hanya lelaki yang bisa dianggap kuat dan menjadi pemimpin untuk kemajuan peradaban manusia.

Dalam sejarah peradaban umat manusia, perempuan perna dianggap tak berguna. Dalam tradisi Arab jahiliyah perempuan adalah aib dan sumber kelemahan, mereka tak mampu membela sukunya dari ancaman perang, itulah yang menyebabkan tak sedikit anak perempuan dari mereka yang dikuburkan hidup-hidup.

Peradaban Romawi menjadikan perempuan sepenuhnya berada di bawa kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir menganiaya dan membunuh.

Peradaban Hindu dan China tidak lebih baik dari yang lain. Hak hidup perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya, istrinya dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar.

Dalam pandangan Yahudi, martabat perempuan sama dengan pembantu, mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena perempuanlah Adam diusir dari surga.

Sementara oleh orde baru, gerwani ( gerakan wanita Indonesia ) disebut sebagai pelacur bejat moral dan merupakan lahan perluasan PKI. Ternyata, dalam penemuan penelitian menyatakan, bahwa gerwani adalah organisasi masa perempuan yang suaranya sangat keras dalam membela hak- hak perempuan. Bahkan disebut mendukung pembebasan irian barat dari kolonialisme.

Dalam sejarah gerakan feminisme dunia dirintis oleh Olympe De Gauges di Prancis pada abad ke 18 kemudian memimpin kaum perempuan miskin Paris berdemonstrasi ke parlemen menuntut pengadaan roti. Ini adalah langkah revolusioner karena roti yang dipandang sebagai persoalan dapur ditransformasikan ke persoalan politik. Terlihat, di dalam jiwa perempuan pun ada jiwa revolusi untuk mempertahankan kemaslahatan kehidupan orang bnyak.

Jelas realita mutakhir ini, perempuan tak lemah seperti yang dianggap pada zaman dahulu. Polwan ( polisi wanita ) kowat ( tentara wanita ) di pundak mereka ada harapan negara untuk menangkis dan mengamankan kekacauan dari luar maupun dari dalam negeri sendiri, itu artinya dalam diri perempuan pun ada kekuatan yang dapat menopang utuhnya sebua bangsa.

Mungkinkah generasi bangsa Arab akan berlangsung hingga kini, bila perempuan Arab menjadi musnah akibat dari mengeburkan setiap anak perempuan hidup-hidup? Apakah China bisa berkembang mencapai milyar penduduk bila perempuan musnah karena dibakar? Atau mungkinkah orang Yahudi dapat menciptakan generasi cerdas bila melaknat perempuan dan akan berpengaruh pada psikologinya hingga bayi-bayi yang akan lahir pun terkena dampaknya, yaitu ASI tak berkualitas karena stres.

Dari tiga poin itu sudah mampu mengaktifkan kesadaran kita akan pentingnya kehadiran sosok perempuan dalam segala aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik maupun pertahanan. Oleh karena itu, hendaklah kita membayar utang peradaban dengan menghargai hak-hak dan menjamin kesetaraan perempuan dalam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *