banner 728x250

Jangan Menantang Badai

Photo : Adi Arwan Alimin

Enewsindonesia.com, Oleh : Adi Arwan Alimin Mandar

Amat banyak ungkapan untuk merangsang sugesti. Tanda pagar atau tagar (#) yang kini berseliweran bagian dari itu. Simbol ini dibuat untuk meringkas pesan yang dapat kepanjangan. Bertele-tele.

banner 728x250

Untuk mewakili seruan pencegahan terhadap pandemi Corona atau Covid-19, dibuatlah #CegahCovid-19. Maka kita langsung mengerti beragam tagar-tagar itu hampir sebulan terakhir.

#LawanCovid-19, #Dirumahaja, #Jagajarak, #Belajardirumah, bahkan #WorkfromHome lebih singkat lagi #WHF.

Saya tak perlu menuliskan telah berapa jumlah pasien ODP, PDP, sembuh dan meninggal sesuai rilis terakhir. Itu telah diakses semua orang termasuk bagi yang enggan menulis sumbernya dari mana.

Kita sedang dalam amuk badai pandemi. Kecekatan negeri kita mungkin tak secepat negara lain, tapi gelombang ini datang tidak tiba-tiba. Bahkan negara asal virus ini sekalipun kelimpungan meski mereka sudah di level cara menemukan penangkal.

Ibarat perahu, bangsa kita sedang berada di laut lepas. Sementara amuk badai ini pelan-pelan dicipta pertemuan arus dan gelombang buih. Ketika tiupan angin dari segala mata makin kencang, perahu pun bergetar hebat.

Tapi moyang kita pelaut ulung. Memang sebagian orang panik, gamang, putus asa dan merasa tak lagi mampu menemukan tepi daratan disela hujan badai. Namun kendali perahu masih dipegang demikian kuat.

Sebagian penumpang perahu ini masih tegar, kukuh menghadapi gelombang yang hampir melimbungkan. Sebagian yang lain bahu-membahu saling menolong, berbagi kesempatan berdiri.

Badai tak mungkin dihadapi sambil berdiri menantangnya. Bila makin memukul layar atau menghantam geladak menepilah ke buritan. Lihatlah tanda kemana mesti menepikan perahu. Tapi bukan untuk berhenti.

Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Sekali melakukan upaya mencegah baiknya kita sama menolong nakhoda, membantu sesama penumpang. Agar perahu tetap melaju di tepi kecemasan.

Jangan berdiri menantang badai Corona. Usah petantang-petenteng sebagai ksatria. Ini musuh tak nyata, ia datang tak membawa senjata berkaliber atau hulu nuklir. Corona seolah sepoi nanometer (nm), amat minim. Tetapi sanggup meretakkan bangsa paling digdaya di muka bumi ini.

Jangan menantang corona. Dadamu bukan tameng dari baja Damaskus.

Mendengarlah seruan pemerintah juga ulama.

Mamuju, 15 April 2020

(Adi/Hw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *